Kamu pernah belajar atau mendengar soal sejarah lama? Sejarah tentang asal-asalan kata manusia yang saat ini begitu diagungkan keberadaannya? Ya aku punya cerita. Cerita tentang bangku. Bangku taman kompleks perumahaan sebuah kota di Indonesia.
Bangku. Bangku taman ini terbuat dari kayu. Kayu jati, pilihan dari bapak pembangun kompleks. Kalau kamu lihat dari jauh mungkin memang cuma kayu yang ditumpuk, dipaku diatas sebuah tatanan semen dan batu bata. Tapi begitu kamu mendekatinya perlahan, dia hidup.
Ini bukan cerita mistis atau khayalan konyol. Kamu bisa mencium bau nafasnya kalau kamu berhasil menyentuh hatinya. Dibagian tengah kayu itu. Banyak orang datang pergi duduk di bangku itu. Berbagai kejadian juga pernah terjadi di atas bangku itu. Kamu tau? Bangku itu tetap diam.
Dia diam bukan karena tidak punya indera seperti manusia. Dia punya kok. Dia kadang juga meluapkan isi hatinya. Saat-saat tertentu aku sering mendengar dia bernyanyi lagu-lagu sendu.
Kalau aku tanya. Dia pun menjawab.
Apa perduli mereka? Kelak aku ada disini juga diciptakan kan. Aku harus bisa menerima jadinya diriku sendiri. Tanpa harus banyak orang tau dan peduli terhadapku. Aku selalu dianggap sia-sia dan dipandang sebelah mata kan. Kekuatanku dan hidupku untuk mereka. Toh aku disini juga bermanfaat bagi mereka. Jadi, segala kesedihanku biarlah bersatu dalam semakin tuanya kulitku. Kata orang, semakin tua aku semakin kuat pula aku. Hahahaha sejak kapan? Aku hanya ingin mengabdi. Mengabdi untuk para pembuatku. Untuk semua paku-paku yang menancap dikulitku dan semen-semen ini, merekalah temanku. Biarkan sinar matahari, hujan dan terang bulan selalu memayungi kami. Sampai saatnya nanti, semakin dibuangnya aku. Hancur, lapuk dan disingkirkan. Terima kasih sudah peduli, jangan ragu untuk duduk atau bahkan meniduri aku ya. Aku akan menjadi tempat, lebih dari pundak para manusia disisimu itu. Aku memberimu nyaman. Kenyamanan yang gak semua orang bisa dengan mudah didapatkan.
Ku elusnya lembut.
Aku mencoba duduk dan perlahan-lahan menidurinya. Rasa sakit itu seolah tertransfer ke aku. Mungkin memang kehidupanku tidak lebih pahit dari hari-harinya disini. Sakit hati hanya menjadi lubang kecil yang dengan mudah dapat ditutupi. Tapi dia, merasakan lebih dalam sakit. Tapi dia diam, sedangkan aku? Mengais jalan. Mencari kesempurnaan? Tolol. Jiwaku masih seperti anak 5tahun yang merengek waktu tidak dibelikan mainan. Bodoh~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar